Fakta Langka, Bapak-Anak Jabat Pangdam Jaya

JAKARTA – Kodam Jaya/Jayakarta pernah dipimpin oleh bapak dan anak. Barangkali ini sejarah unik yang jarang diketahui masyarakat sejak Kodam ini berdiri tahun 1949, hingga menginjak usia ke-75, tahun ini.
Memperingati ulang tahun ke-75, yang diperingati setiap tanggal 24 Desember 2024 menarik kita simak sejarah. Tujuannya, agar kita tak kehilangan arah.
Tersebutlah nama Mayjen TNI Norman Sasono (pensiun dengan pangkat Letjen). Ia menjabat Pangdam V Jaya/Jayakarta era 1977 – 1982. Bagi generasi 80-an, akan mengenal sosok yang satu ini sebagai jenderal berkumis tebal.
Norman mengawali karier militernya dari Akademi Militer di Malang pada 1945. Setelah itu, ia menjadi seorang perwira Corps Polisi Militer (CPM), dan menempati berbagai jabatan penting di lingkungan TNI AD.
Pada 19 Januari 1974, Norman dilantik menjadi Kepala Staf Komando Daerah Militer V/Jaya (Kasdam V/Jaya) menggantikan Urip Widodo. Kurang lebih dua tahun ia menempati posisi tersebut, hingga akhirnya ia dipromosikan menjadi Pangdam XII/Tanjungpura, menjabat dari 20 Februari 1976.
Setelah 20 bulan bertugas di Kalimantan, pada 12 Oktober 1977 Norman menggantikan posisi G.H. Mantik sebagai Pangdam V/Jaya yang baru. Selama menjabat Pangdam di Jakarta, ia berhasil membongkar jaringan mata-mata Rusia.
Letkol Sergei Egorov, asisten atase militer Kedutaan Besar Uni Soviet di Jakarta terlibat kegiatan mata-mata, ia tertangkap basah melakukan transaksi jual beli dokumen-dokumen rahasia negara, terutama mengenai kemaritiman, pada 4 Februari 1982 di sebuah rumah makan di Jl. Pemuda, Jakarta. Sedangkan Kepala Perwakilan Aeroflot di Jakarta Alexandre Finenko, ditahan Kopkamtib karena diduga terlibat.
Marciano Norman
Dari pernikahannya dengan Atina Priatman, Norman Sasono dikaruniai tiga orang putra, salah satunya bernama Marciano Norman yang lahir di Kalimantan, 28 Oktober 1954. Ia mengikuti jejak ayahnya, dan lulus AKABRI 1978.
Karier Marciano diawali di Kesatuan Kavaleri TNI-AD. Kariernya bersinar, hingga menorehkan sejumlah catatan penting dalam berbagai bidang penugasan. Tercatat, ia pernah menjabat Danpaspampres (2008), sebelum menjabat Pangdam Jaya (2010 – 2011).
Salah satu catatan penting selama menjabat Pangdam Jaya adalah tindakannya yang tegas terhadap anggota yang melanggar hukum. Hasil "bersih-bersih" Marciano Norman, belasan anggotanya dihadapkan ke Pengadilan Militer II-08 Jakarta karena berbagai kasus pelanggaran.
Berdasarkan catatan di Oditurat Militer II-08 Jakarta, hingga Agustus 2010 sudah menindak 50 anggota TNI yang melanggar hukum. Sebanyak 15 perkara disidangkan dalam pengadilan militer II-08, sedangkan lainnya digelar secara in absentia. Sebanyak tiga di antara yang melanggar bergolongan perwira.
Usai menjabat Pangdam Jaya, Marciano bergeser ke posisi Komandan Kodiklat TNI-AD 2011. Tak lama kemudian, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengangkatnya menjadi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), menggantikan Jenderal Pol Purn Sutanto. Jabatan Kepala BIN disandang hingga 2015.
Saat ini, Marciano Norman menjabat Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Sosoknya kelihatan pelit senyum, tetapi sejatinya ia adalah pribadi yang hangat, dan menebar senyum setiap menghadapi wartawan.
Sumber (Pendam Jaya)
