Pangdam Jaya Dulu, Gubernur Kemudian

Berita Utama   Minggu, 22/12/2024   



JAKARTA – Statistik menorehkan catatan, kepala daerah berlatar belakang militer banyak mewariskan kepemimpinan yang terbilang everlasting. Salah satu faktor karena di institusi militer, dikenal “Binter” (pembinaan teritorial). Itulah ajang interaksi langsung TNI – rakyat.


Tulisan ini kiranya akan me-refresh kenangan kita terhadap sosok-sosok militer yang kemudian sukses ketika menjabat gubernur. Kodam Jaya/Jayakarta sedikitnya telah meluluskan empat orang panglima-nya menjadi gubernur.


Yang pertama adalah Pangdam Jaya/Jayakarta ke-12, Mayjen TNI Gustaf Hendrik Mantik. Lelaki berdarah Kawanua kelahiran Bandung, 26 April 1928 itu adalah salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia. Karier militernya dimulai saat ia menjadi Komandan Kebaktian  Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) wilayah Bandung – Jakarta. Secara resmi ia terdaftar sebagai anggota militer aktif saat menjadi Bintara Brigade Guntur di Divisi Siliwangi tahun 1946.


Pernah menjabat Asisten II Kodam V/Jaya tahun 1963. Kemudian tercatat pernah pula menjabat Pangdam IX/Mulawarman. Sebelumnya, GH Mantik menjabat Kepala Staf Garnizun Jakarta.


Tahun 1973, Mayjen TNI GH Mantik menjabat Pangdam V/Jayakarta. Ia mengemban jabatan Pangdam Jaya hingga tahun 1977, sebuah kurun waktu yang terbilang lama untuk jabatan Pangdam.


Lepas Pangdam Jaya, ia promosi bintang tiga (Letnan Jenderal) dan menjabat Pangkowilhan I. Lalu tahun 1980 – 1985, GH Mantik tercatat sebagai Gubernur Sulawesi Utara. GH Matik wafat di Jakarta 8 Agustus 2001, dan dimakamkan di TMP Kalibata.


Sosok kedua mantan Pangdam Jaya yang menjadi Gubernur adalah Jenderal (Hor) Soerjadi Soedirdja (1938 – 2021). Lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) angkatan 1962 itu, adalah Panglima Kodam Jaya ke-16, menjabat tahun 1988 – 1990. Pria kelahiran Jakarta 11 Oktober 1938 itu, menjabat Gubernur DKI Jakarta ke-11 tahun 1992 – 1997.


Ia digantikan oleh Sutiyoso sebagai Gubernur DKI Jakarta ke-12. Sutiyoso menjabat selama dua periode (20 tahun), yaitu antara 1997 – 2002 dan 2002 – 2007. Sebelum menjabat gubernur, Sutiyoso adalah Panglima Kodam Jaya ke-20, tahun 1996 – 1997. Artinya, sudah tiga nama Pangdam Jaya yang menjadi gubernur. Kebetulan di provinsi yang sama, DKI Jakarta.


Sedangkan, yang keempat adalah Letjen TNI Purn Bibit Waluyo. Ia adalah Pangdam Jaya ke-25, yang menjabat tahun 2001 – 2002. Pria kelahiran Klaten, 5 Agustus 1949 itu kemudian mengikuti Pilkada dan menjadi Gubernur Jawa Tengah periode 2008 – 2013.


Warisan Karya


Sebagai mantan gubernur, empat mantan Pangdam Jaya itu menorehkan prestasi yang dikenang hingga hari ini. Bahkan jejak digitalnya masih bisa dilacak di internet.


Sejarah Sulawesi Utara mencatat, GH Mantik dikenal masyarakat mewariskan banyak perkembangan. Yang utama adalah penataan organisasi dan tata kerja serta pembenahan administrasi pemerintah daerah Sulawesi Utara. Hal itu menjadi dasar berpijak yang kokoh dalam memacu pembangunan di Bumi Nyiur Melambai.


Kemudian di Jakarta. Saat kepemimpinan Gubernur Soerjadi Soedirdja, Jakarta memulai proyek pembangunan rumah susun dan memperbanyak kawasan hijau. Jika Anda sekarang melihat kereta api bawah tanah (subway) dan jalan susun tiga (triple decker), itu adalah gagasan Soerjadi Soedirdja.


Untuk mengurangi kemacetan, Soerjadi Soedirdja memberlakukan sistem satu arah pada sejumlah ruas jalan. Tidak hanya itu, di era Soerjadi pula Jakarta membangun sejumlah ruas jalan tol dalam kota, tol lingkar luar, tol bandara, serta ruas tol Jakarta Boggor-Ciawi, Jakarta – Cikampek, dan Jakarta – Merak.


Bagaimana dengan Sutiyoso? 


Catatannya lebih menarik lagi. Lelaki yang akrab disapa “Bang Yos” itu memimpin Jakarta di tengah gonjang-ganjing politik (1997 – 2007). Pada masa itu, terdapat total lima presiden di Indonesia, yakni Soeharto, BJ Habibie, Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.


Peralihan antar presiden yang seringkali disertai gejolak dan gangguan di jalanan kota Jakarta. Toh, mantan Kepala BIN itu berhasil melaluinya dengan gemilang.


Warisan tak terlupakan bagi warga Jakarta dari Bang Yos adalah Trans Jakarta, yang ia bangun awal tahun 2000. Meski awalnya mendapat kritik berbagai pihak, Bang Yos jalan terus. Hari ini, semua warga Jakarta berterima kasih atas jasanya menghadirkan Trans Jakarta.


Bagaimana dengan Bibit Waluyo? Usai terpilih menjadi gubernur, Bibit langsung mencanangkan program unggulan “Bali Ndeso Mbangun Deso”, atau kembali ke desa dan membangun desa. Sebagai perwira tinggi militer, Bibit paham betul, desa yang kuat melahirkan negara yang juga kuat.


Program ini pun sempat menuai pro dan kontra, tetapi Bibit jalan terus. Di akhir kekuasaannya, Jawa Tengah berhasil menjadi provinsi yang bisa swasembada beras tahun 2012. 


Sumber (Pendam Jaya)





Loading...

Loading...
Loading...