Home / Berita Satuan / Penuhi Kebutuhan Pangan, Anggota Rindam Jaya Kembangkan Pertanian Hodroponik

Penuhi Kebutuhan Pangan, Anggota Rindam Jaya Kembangkan Pertanian Hodroponik

Kodam Jaya – Jakarta Timur. Dengan sistem pertanian hidroponik, keterbatasan lahan bukanlah hambatan untuk bertani, hasil yang didapatpun tidak kalah bagusnya dengan sistem pertanian konvensional. Ini dibuktikan oleh Serda Basirun (39) yang juga Imam Mesjid At-Taqwa Rindam Jaya/Jayakarta. Sisa halaman rumahnya disulap menjadi kebun hidroponik dengan memanfaatkan bak-bak dan botol-botol plastik bekas.

“Kalau mau memenuhi kebutuhan pangan sendiri maka bisa pakai hidroponik ini, selain itu air yang menggenang di bawahnya juga dapat dimanfaatkan untuk budidaya ikan mas, tentunya dua kali keuntungan yang didapat,” kata Basirun saat ditemui di rumahnya di Komplek Rindam Jaya RT 03/05, Condet, Jakarta Timur, Jumat (09/3/18).

Basirun juga menjelaskan kelebihan sistem pertanian hidroponik ini. Selain penggunaan lahan yang terbatas, tanaman juga bisa tumbuh kapan saja, tidak tergantung musim. Bahkan di wilayah pesisir dengan iklim panas pun bisa tumbuh dengan baik. Sementara dengan polybag, cukup sulit mencari tanah sebagai media tanam. “Syarat utama sistem hidroponik memang pada ketersediaan air. Prinsip pertanian hidropik ini adalah budidaya tanaman yang tidak lagi menggunakan tanah sebagai media tanam, tetapi memanfaatkan air yang telah diberi nutrisi untuk tanaman,” jelasnya.

Tentang penyemaian bibit, Basirun biasa menggunakan bahan yang disebut rockwool yang bisa dibeli di toko tani atau melalui online. Media lainnya seperti sekam bakar, sabuk kelapa dan bahan-bahan lain yang sifatnya lembab. Dari pengalaman Basirun, ternyata bahan lokal hasil sayurannya lebih bagus dan lebih segar. Sementara untuk masa tumbuh tanaman, dijelaskan Basirun cukup bervariasi. Sawi atau Selada misalnya dalam 24 jam sudah berkecambah. Setelah 7-10 hari biasanya sudah siap tanam. Tanaman hasil semaian ini kemudian ditempatkan di wadah tanaman yang disebut netpot.

Untuk nutrisi ini sendiri, tambahnya, pada dasarnya tanaman membutuhkan dua unsur, yaitu unsur makro yang disebut NPK dan unsur mikro, yaitu unsur tertentu yang harus dimiliki tanaman dalam jumlah sedikit dan harus ada, seperti natrium, boron dan unsur-unsur lainnya. “Kedua unsur ini kemudian diracik dalam satu ramuan yang kemudian disebut AB Mix. A untuk makro dan B untuk mikronya, yang dilarutkan ke dalam air untuk sumber makanan bagi tanaman,” terang Basirun.

Model pertanian hidroponik bervariasi, seperti model menggenang dengan hanya menggunakan botol-botol bekas dan styrofoam yang disebut metode wig atau sumbu. Lalu ada metode rakit apung, dimana styrofoam dilubangi dan diapungkan di dalam kolam. Kemudian yang lebih kompleks ada metode Deep Flow Tehnique (DFT) dengan meletakkan akar tanaman pada lapisan air ke dalaman antara 4-6 cm. Metode lainnya adalah Nutrient Film Technique (NFT), dimana medium berupa kemiringan sekitar 5 derajat dengan aliran air yang tipis. Ada juga metode Dutch Bucket, yang khusus untuk tanaman buah seperti lombok, tomat dan terong.

Menurut Serda Basirun, semua jenis sayuran buah atau sayuran daun bisa dibudidayakan dengan sistem hidroponik. Tanaman lain yang cocok adalah tanaman hias dan tanaman herbal seperti ginseng, mint dan binahong. Serda Basirun sendiri selama ini telah mencoba berbagai jenis sayuran daun seperti sawi, pakcoi, seledri, kangkung dan bayam.

Karena posisi tempat tanaman hidroponik tepat disamping jalan dan merupakan tempat terbuka, tentunya menjadi perhatian banyak orang yang lewat. Banyak orang yang berhenti dan menanyakan apa dan bagaimana cara pembuatannya.

Salah seorang yang juga menaruh perhatian adalah Danrindam Jaya/Jayakarta Kolonel Inf Anton Yuliantoro, S.IP., M.Tr (Han). Setiap melewati jalan rumah Serda Basirun, Anto pasti selalu berhenti dan melihat perkembangan tanaman hidroponik yang memang nyaman dilihat itu.

Anton memuji kreativitas anak buahnya ini, Anton pun meminta seluruh warga Rindam Jaya yang masih mempunyai kelebihan lahan untuk melakukan hal serupa dengan Basirun. “Ini merupakan bagian ekonomi kreatif, ini merupakan wujud ketahanan pangan yang nyata, yang semua orang bisa melakukanya untuk memenui kebutuhan sehari-hari, kreativitas yang dilakukan Serda Basirun harus menjadi Pilot Project ketahanan pangan yang harus segera ditularkan kepada seluruh warga Rindam Jaya,” tegas Anton.

Check Also

Himbau Protokol Kesehatan, Serma Purwanto Komsos di Pasar Saraswati

Kodam Jaya – Tangerang. Membantu pemerintah dalam pencegahan penyebaran Covid-19, anggota Koramil 04/Ciledug Kodim 0506/Tgr, …